www.ika-riris.info

Newsflash

'Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar; Dia memasukkan malam atas siang dan memasukkan siang atas malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Ingatlah! Dialah Yang Maha Mulia, Maha Pengampun' QS 39:5

'Dia menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam) kemudian darinya Dia jadikan pasangannya dan Dia menurunkan delapan pasang hewn ternak untukmu. Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan. Yang (berbuat) demikian itu adalah Allah, Tuhan kamu, Tuhan yang memiliki kerajaan. Tidak ada Tuhan selain Dia, maka mengapa kamu dapat dipalingkan?' QS 39:6

 

Padang-Kuala Lumpur-Penang 30.12.11-02.01.12

E-mail Print PDF

Sebenarnya tahun 2012 saya ingin berkunjung ke Vietnam atau Hongkong. Tapi menunggu dan menunggu, tiket murah belum juga didapat. Sudah ada tiket promo sih, sayang, saya tdk beruntung. Namanya juga promo besar-besaran, susah dapetinnya meskipun saya sudah bergadang 2 malam untuk itu. Sementara meskipun belum satu bulan saya plesir ke Singapore, saya sudah tidak sabar merencanakan kepergian saya selanjutnya. Berasa ketagihan aja ya.

Akhirnya, setelah utak atik jadwal dan harga tiket pesawat, tiba-tiba saya langsung melakukan order untuk penerbangan Jakarta-Padang untuk tanggal 30 Desember 2011 menggunakan Batavia Air. Harga tiket yang saya peroleh saat itu Rp 437,000/orang.  Sudah termasuk bagasi 20 kg. Masih ada 9 bulan bagi saya mempersiapkan rute perjalanan dari sejak saya membeli tiket. Waktu saya mencoba melihat tiket pulang Padang-Jakarta, wow.....mahal boo. Mencoba melihat jadwal, rute dan harga di maskapai lain, akhirnya saya membeli tiket Airasia Padang-Kuala Lumpur untuk tanggal 31 Desember 2011 seharga Rp 618,000/2 orang termasuk bagasi 15 kg (tarif bagasi Airasia naik deh kayaknya). Mendekati hari H, saya berencana update tiket dengan membeli makanan di pesawat, lumayan, lebih murah hitungannya dibanding saat membeli langsung di pesawat. 2 Hari sebelum keberangkatan, harga tiketnya menjadi Rp 547.000/orang sebelum pajak. Nah lho

Kemudian per 3 Mei 2011, Airasia mengumumkan akan mengenakan tarif fuel surcharge, artinya harga tiket akan menjadi mahal. Panik, karena saya belum mendapatkan tiket pulang ke Jakarta, sementara waktu yang saya pilih bertepatan dengan perayaan tahun baru, semakin lama saya menunda membeli tiket, pastinya bisa jadi harga tiket menjadi sangat mahal atau yang terburuk, mungkin saya tidak akan kebagian tiket sama sekali. Huuuuuu, apa jadinya kalau terdampar di negeri orang?

Alhamdulillah, setelah terus memantau update info promo dari Airasia, akhirnya saya dan suami memutuskan membeli tiket pada tanggal 13 Mei 2011 (tepat 2 hari menjelang promo-nya habis). Well dibilang promo, begitu confirmed, harganya cukup mahal (akibat pengenaan fuel surcharge), tapi kali ini, Airasia menjadi jauh lebih murah dibandingkan maskapai lainnya. Akhirnya setelah menimbang rute dan harga pesawat, kami memilih penerbangan Kuala Lumpur-Penang seharga USD 68.79 (Rp 606,538) untuk berdua orang (termasuk bagasi 15 kg), harga tersebut termasuk 8 MYR/orang karena pemesanan tiket menggunakan kartu kredit. Dan saya pun membeli 2 porsi makanan untuk hari H seharga MYR 24 total. 3 hari sebelum hari H, harga tiket promo untuk rute ini USD 26.13/orang tanpa bagasi. Mmmm...tidak terlalu jauh berbeda harganya.

Setelah itu kami memutuskan untuk berlibur di Penang. Ya, daripada saya menghabiskan waktu di Kuala Lumpur (kan sudah pernah), maka kali ini saya ingin mencoba berpetualang di tempat yang belum pernah kami kunjungi. Harga tiket yang saya bayar untuk tiket Penang-Jakarta seharga USD 119.27 (Rp 1,051,632) untuk 2 orang termasuk bagasi 15 kg, nasi goreng dan nasi lemak dan pastinya charge 8 MYR/orang karena pembayaran menggunakan kartu kredit. Waktu self check in ternyata saya tidak mendapatkan tempat duduk bersama suami, terpaksa saya membeli kursi di awal, untuk ini saya menambah MYR 17. Sementara 4 hari sebelum tanggal penerbangan, harga tiket ini meroket ke angka USD 241.44/orang tanpa bagasi.

Takut kehabisan kamar, kami segera memilih Pearl View Hotel di Penang seharga total USD 53.25/malam (Rp 474,663). Murah sih karena hotel yang saya pesan, hotel bintang empat. hehehe, ya setelah berpikir bahwa ini adalah hari ketiga kami berjalan-jalan, kami memutuskan tidur di tempat yang nyaman dan enak.

Kejutan lainnya, setelah rencana perjalanan saya upload di salahsatu situs pertemanan khusus penyuka travelling, saya mendapatkan respon tak terduga, seorang teman baru, Laura, berencana ikut serta dalam perjalanan kami. Wow!!! We never met before. Setelah kontak lewat email, telpon dan chatting, mbak Laura segera memesan tiket, dan dan dan karena memang tiket pulang untuk rute Padang-Jakarta mahal, maka beliau memutuskan untuk ikut semua rute perjalanan saya. Tanggal 29-31 Mei 2011, beliau segera hunting tiket, alhamdulillah, akhirnya beliau masih berkesempatan untuk mendapatkan tiket pesawat dan waktu keberangkatan yang sama dengan kami. Masalah lain, hotel yang sudah saya pesan sold out. Bingung deh, kasihan kan kalau mbak Laura sampai harus terdampar sendirian di negeri orang. Setelah membaca banyak referensi, akhirnya mbak Laura pun mengikuti saran saya untuk booking kamar di TuneHotels Penang. Kamar pun dipesan dengan harga MYR 9, setelah ditambah AC, pajak, dll, akhirnya mbak Laura cukup membayar total MYR 23/orang sekitar Rp 69,000 aja. Murah banget kan?

Setelah berkonsultasi dan mempelajari Penang lebih lanjut, akhirnya saya menyadari kalau hotel pilihan saya di Penang bukan di tempat yang asyik dan menarik untuk menjelajah Penang khususnya sebagai warisan heritage UNESCO. Dengan berat hati, akhirnya saya membatalkan pemesanan kamar via AGODA, kepotong charge USD 15, tetapi untungnya hotel yang baru saya pilih di lokasi strategis, jatuhnya lebih murah meskipun tanpa sarapan. Dan SO Hotel pun saya booking tanpa biaya pemesanan pada tanggal 1 November 2011 di harga USD 30.99 (MYR 95). Kali ini sepertinya booking.com tidak menerapkan DP 10% di depan, hanya open kartu kredit tapi charge akan diberlakukan bila kita sudah datang menginap atau lewat hari H sementara tidak ada konfirmasi cancel dari kita. Asyik juga sistemnya.

Tepat 3 minggu sebelum keberangkatan, mbak Laura memutuskan tidak ikut pergi jalan-jalan karena alasan keluarga. Sayang banget ya tiketnya. Tapi sepertinya mbak Laura pun memilih pasrah menghanguskan tiketnya meskipun sudah saya coba beri solusi re-route/refund,well mbak Laura, hope to be with you on my next journey. Semoga ibunya cepat sembuh dari sakitnya ya.

Mengingat waktu saya berada di Penang singkat, saya pun memutuskan segera membeli paket tour travel. Pemesanan beres, ternyata di voucher disebutkan bahwa saya harus menelpon travel untuk konfirmasi perjalanan saya. I did a international calling then to confirm my tour.

Tanggal 30 Desember 2011. Jakarta - Padang - Bukittinggi - Batu Sangkar - Solok

Jam 4 dini hari, alarm sudah berdering. Bangun, mandi, sholat, kami pun keluar rumah jam 5 pagi, menuju terminal 1 C Bandara Soekarno Hatta. Sekitar jam 6 lewat sedikit, kami pun sampai bandara, check in. Menuju ruang tunggu. Kami pun berangkat sesuai jadwal, jam 07.30 dan sampai di Padang jam 09.05. Well perjalanan ke Padang menjadi perjalanan pertama suami saya ke ranah minang. Ohya penumpang pesawat Batavia pagi itu terpantau 80% lebih penuhnya.

Bertemu dengan Bapak sopir, kami pun bergegas menuju Bukittinggi melalui Padang Pariaman, Padang Panjang. Belum sempat sarapan, kami pun mampir ke salahsatu restoran yang cukup besar, di sepanjang perjalanan. Makan 3 orang waktu itu menghabiskan sekitar Rp 70.000.

Kemudian kami melewati Lembah Anai. Air terjun yang kebetulan berada di pinggir jalan utama yang kami lalui. Untuk masuk dikenakan tarif Rp 2.000/dewasa dan Rp 1.000/anak-anak.

Lembah Anai, Kayu Tanam, Padang Panjang

Akhirnya setelah melewati sholat Jumat di jalan, kami pun sampai di Bukittinggi sekitar jam 2 siang. Kami pun langsung menuju Ngarai Sianok. Pemandangan yang indah di lembah ini pernah ditampilkan di selembar kertas Rp 1.000 jaman dulu. Untuk masuk tarifnya Rp 6.000/dewasa. Dari sini sebenarnya kita bisa melihat Goa Jepang. Sebuah terowongan panjang yang dulu digunakan tentara Jepang untuk menghukum rakyat Indonesia, jadi bisa dikatakan Goa Jepang adalah peninggalan sejarah. Cuma untuk masuk, kita akan menuruni sekitar seratus lebih anak tangga. Hehehe...kalau waktu Anda cukup, saya sarankan masuk kesana. Di sekitar tempat wisata ini, banyak terdapat hotel bintang 1-3.

Dari situ, kami pun beranjak menuju Pasar Atas dimana Jam Gadang sebagai trade mark kota Bukittinggi berada.

Jam Gadang, Bukittinggi


 

 

Puas berfoto disana, kami pun langsung masuk ke pasar Kota Atas. Mencari souvenir, makanan yang unik. Kebetulan saya bertemu dengan penjual pisang bakar yang dipukul sampai gepeng. Panganan ini bisa dibeli seharga Rp 10.000/3 buah. Rasanya, lamak nian rasonyo.

 

 

Makan siang, Rp 35.000/berdua

Kelar makan siang di salahsatu rumah makan di komplek Pasar Atas, kami pun melalui ruko-ruko yang berjualan emas. Kami coba mampir, sayang tidak semua punya layanan visa. Setelah mencari-cari,akhirnya kami menemukan satu toko emas yang bisa melayani kartu visa/master card. Dan akhirnya kami membeli emas disana. Kenapa membeli emas jauh-jauh? Ya, karena emas di Sumbar sangat istimewa, kadar kemurniannya bisa mencapai 98% dan bahkan 99.9%, berbeda dengan mas di Jawa yang kadar kemurniannya sekitar 92-97% saja. Well saya sendiri sebenarnya bukan penggemar perhiasan emas, cuma ya sedang pengen beli, jadilah. Belakangan saya baru tahu kalau harga emas naik, jadi harusnya kalau emas saya jual, bisa dapat laba deh. Hehehehe

Sekitar jam 4, kami bergegas menuju Batusangkar lewat Payakumbuh. Kami bermaksud mengunjungi Istana Pagaruyung yang tersohor. Jam 6 sore kami sampai disana, untungnya jam 6 di Sumatera Barat seperti jam 4 di Jakarta. Kami pun segera mengabadikan keindahan replika istana. Sayangnya istana ini baru saja terbakar oleh petir, sehingga banyak sekali benda pusaka musnah karena terbakar, dan kami berada disana, istana bagian dalam sedang proses pemugaran.

 

Basuo Jo Olga, Batusangkar, Sumbar

Sekitar jam 18.30 kami meninggalkan tempat ini, ya, jam segitu di Sumatera Barat masih berasa sore, belum gelap. Kami menuju Solok, melewati Danau Singkarak. Danau air tawar ini mempunyai ikan khas yang hanya bisa ditemukan di danau ini, Ikan Bilih. Tadinya kami berencana makan malam di tepian Danau Singkarak sambil menikmati keindahan danau, apa daya, mendadak saya ingin cepat-cepat sampai di Solok. Kalau beruntung kita bisa menikmati buah durian dan duku di pasar Solok pada malam hari. Makan durian ditempat, harusnya enak dinikmati bersama Lamang.

Danau Singkarak

Kami sholat Maghrib menjelang Sumani. Usai sholat, tampat para ibu-ibu dan bapak-bapak bersiap mengaji bersama, Subhanallah, begitu kental budaya keislaman disana. Yang menarik memang sepanjang perjalanan saya dari Bukittinggi ke Solok, banyak ditemui mesjid-mesjid besar dan bagus.

Sampailah di Solok, kami melihat dua alternatif hotel yang akan kami tempati malam ini, lalu kami mengantar Bapak Driver ke rumahnya di Solok, mobil kami bawa, kami pun chek in ke Hotel Caredek. Tarif kamar twin beds seharga Rp 250.000. Fasilitas breakfast 2 orang, tv, kamar mandi dalam (closet duduk+shower) dan AC. Kamar terpantau cukup bersih, dilengkapi handuk (sayang warnanya tidak menggoda untuk dipakai, disamping saya membawa handuk sendiri) dan sajadah (luar biasa, seolah-olah pemilik/pengelola hotel mengingatkan kita untuk rajin-rajin sholat). Disini tamu hotelnya relatif sepi, so just walk in to get your room easily.

Lapar, kami pun keluar hotel mengendarai mobil sewaan, kebetulan ada rumah makan enak dekat situ, sekitar 400 meter dari hotel. Martabak Kubang 'Mesir' Tanjung. Cukup ramai pengunjung rumah makannya, segera kami memesan 2 nasi goreng dan 2 martabak mesir. Pulang, kami memesan lagi 2 martabak mesir untuk dibawa pulang. Harga nasi goreng dan martabak mesir sama, masing-masing Rp 12.000. Rasanya memang enak.....Berikut daftar penginapan/hotel di Sumatera Barat.

Tanggal 31 Desember 2011. Solok - Padang

Makan pagi berupa mie goreng pedas, ditambah martabak mesir yang kami beli tadi malam, jadi cukup mengganjal perut pagi itu. Kami pun bergegas mengendarai mobil sewaan, mencoba menikmati kota Solok. Bagi saya pribadi, perjalanan ini seperti napak tilas, mengenang masa lalu. Ya, saya dulu pernah tinggal cukup lama di kota ini, sejak kelas 2 SD sampai 2 SMP. Jadi perjalanan pertama saya kali ini mengunjungi sahabat saya semasa SD, Lusy Deswita di jalan Simpang Sawahsianik. Bertemu Lusy, bertemu ibunya yang masih mengingat saya dengan baik walau kami sudah tidak bertemu sekitar 19 tahun, wow.

 

Dan akhirnya saya pun berkesempatan melihat sekolah-sekolah saya di masa lalu. Saya dulu sempat bersekolah di SD Negeri 5 Solok, Sumbar. Kemudian SD Negeri 5 sempat dipecah menjadi 2 SD, yang sekarang menjadi SD Negeri 22 Solok. Sementara, SD Negeri 5 berdampingan (depan/belakang) dengan SD Negeri 3 Solok. Di SD Negeri 5, kami sempat bertemu dan menyapa Mbak Sri, penjual kantin sekolah, yang akhirnya bisa juga mengingat saya dan kisah adik saya di masa lalu.

Napak Tilas

SD Negeri 5 Solok, Sumatera Barat

Selesai melihat bangunan sekolah yang kondisinya sudah tingkat dan lebih baik dari kondisi saya di masa lalu, kami pun menyempatkan diri mengunjungi SMP Negeri 1 Solok. SMP kebanggan di kota Solok, jadi ingat masa lalu, anaknya Walikota dan Bupati Solok pun pasti masuk sekolah ini. Saat itu ada apel pagi di sekolah, entah mau pembagian raport atau hari pertama masuk sekolah.

SMP Negeri 1 Solok (Gedung Kedua)

SMP Negeri 1 Solok (Gedung Pertama)

Dulu, Kelas 1 F, II A

Bangunan Mushola sudah tidak tampak lagi, jadi ingat dulu kalau sekolah sore (kelas 1), jam ashar selalu ada sesi khusus untuk sholat Ashar berjamaah dipandu salah seorang Guru. Permainan jaman dahulu, setiap habis wudhu, beberapa murid pria suka iseng menyentuh murid wanita, sengaja agar murid wanita jadi wudhu bolak-balik. Hehehehe....tapi berhubung jaman dulu saya bukan termasuk primadona kelas/sekolah, jadi ga ada tuh yang gangguin. Waktu terus berjalan, kami segera bergegas mengunjungi salah seorang teman SD saya, Afriyati. Rumahnya depan stasiun, seingat saya, Bapaknya tiap malam menjual pisang goreng. Dan ternyata masih....berjualan hanya pisang goreng setiap malam. Senangnya bertemu kawan lama walau hanya sebentar. Kelar dari situ, kami pun kembali, mengantarkan Lusy ke rumahnya, sambil melewati rumah yang dulu pernah saya tempati di Solok. Kebetulan saya dulu tinggal di Komplek Kajari. Cuma sepertinya rumah kecil saya sudah ada, komplek Kajari hanya untuk rumah Kajari.

 

I used to live here for 6-7 years

Rumah Welly, urangnyo tingga di Bekasi yo

Well, akhirnya napak tilas saya harus berakhir, saya pun kembali ke hotel, check out. Kami pun menuju Padang melalui jalan berbeda (yang dilalui kemarin), melewati Selayo, Cupak dan pastinya jalananya yang berkelok-kelok. Kanan bukit dan kiri, jurang. Serem. Sebenarnya di Cupak, ada Sop 'Abah' Cupak yang enak, sayang masih kenyang. Menuju Padang, kami melewati Taman Hutan Lindung 'Bung Hatta' dan pabrik semen Padang di Indarung.

Bahan Baku Semen

Indarung, Padang.

Masuk kota Padang, kami menemukan keramaian luar biasa di alun-alun kota Padang. Rupanya ada festifal Rendang. Hanya lewat, kami menuju china town kota Padang, disana kami mampir ke sebuah depot untuk menyantap es campur dan pempek, untuk Bapak Driver, makan Gado-gado Padang. Total 3 es campur, 3 pempek, 1 gado-gado kami bayar sebesar Rp 90.000.

Menuju Bandara Internasional Minangkabau, kami melewati Jembatan Siti Nurbaya dan Teluk Bayur.

Jembatan Siti Nurbaya.

Selamat tinggal Teluk Bayur permai, aku pergi jauh ke negeri seberang, ku kan mencari ilmu, di negeri orang, bekal hidup.......

Sampai bandara, sekitar jam 1 siang lewat sedikit, kami berpisah dengan Bapak Driver. Saya pun membayar Rp 700.000 untuk sewa mobil 2 hari, bensin yang terpakai selama 2 hari berkeliling sebagian Sumatera Barat ini totalnya Rp 200.000. Kelar check in, kami sholat dan menunggu penerbangan jam 15.55. Sempat meghitung sisa duit cash Rupiah yang saya persiapkan dari Jakarta, ternyata nyisa Rp 50.000 hehehe. Sore ini kami akan bertolak ke Kuala Lumpur, Malaysia. Hampir 98% kursi penumpang pesawat pada penerbangan ini penuh. Dan sepertinya 95% penumpangnya adalah orang Malaysia, yang baru saja berlibur bersama keluarga, satu rombongan perusahaan, dibiayai kantor untuk berlibur 4 hari 3 malam di Bukittinggi.

Tanggal 31 Desember 2011, Kuala Lumpur, Malaysia

Jam 18.00 waktu Malaysia (jam 17.00 Waktu Indonesia Bagian Barat) kami mendarat di LCCT, Airport Sepang, Malaysia. Hp nokia saya yang berisi sim card Simpati resmi dimatikan (tidak dinyalakan demi menghindari tarif roaming). BB saya yang berisi XL, tetap on, setelah setting, kemudian, saya masih bisa berbrowsing ria dengan gratis (3 hari saja). Sementara BB suami saya diset dimatikan fitur penerimaan sms-nya (BB nyala hanya utk keperluan bbm, FB,email dan fitur browsing lainnya) sementara saya tidak, karena no pada BB ini saya gunakan untuk berkomunikasi dengan Cak Achmad, teman baru saya. Well, saya mengenal beliau lewat FB, kebetulan dia memiliki minat yang sama dengan salahsatu unit bisnis saya. Cukup nekat saya meminta ijin untuk bisa menginap semalam di rumahnya, hehehehe, untung beliau bersedia menjadi tuan rumah sekaligus antar-jemput kami di Bandara LCCT Sepang, Malaysia.

Bertemu di bandara, Cak Achmad, pria asal Jombang, anak pesantren, membawa kami ke.....ga tahu deh...hehehe. Nyetirnya sih ngebut, kemudian tiba-tiba kami sudah sampai di suatu tempat, ada beberapa blok Flat disana, dan kami pun diajak makan malam di semua depot. Cak Achmad bilang, blok Flat disini sebagian besar penghuninya orang Indonesia. Sebenarnya di pesawat tadi sudah makan, tapi ya tidak apa-apa, makan sore di pesawat bisa dianggap makan siang, dan ini jadi makan malam kami. Alhamdulillah, ditraktir.

Suatu tempat di Dataran Nilai, Negeri Sembilan, Malaysia

Selesai makan malam, kami pun diajak masuk Flat Cak Achmad yang berprofesi sebagai Dosen di salahsatu Universitas di Malaysia. Beliau menyewa Flat seharga MYR 250/bulan, listik sekitar MYR 100/bulan. Dalam Flat, terdapat 2 kamar, 1 kamar mandi, 1 dapur, teras untuk menjemur pakaian diluar, dan 1 ruang tamu yang cukup luas. Pernah lihat film Ayat-ayat cinta? Suasana tangga di Flat, sama persis deh. Tidak ada lift, jadi naik tangga ke lantai 3 terasa berat, malum jarang olahraga. Kata Cak Achmad, kalau lantai teratas, jatuhnya lebih murah, sekitar MYR 150/bulan sewanya. Mandi, sholat, Cak Achmad yang lulusan S1 dan S2 di Kairo, Mesir ini pun mengajak kami keluar. Kemana? Ternyata setelah mampir ke Flat berbeda, 2 orang penumpang baru bergabung bersama kami malam itu, orang Indonesia juga (satu asli Solo, satu asli Tegal). Ternyata kami menuju Dataran Merdeka, Kuala Lumpur. Apa daya, jalanan sudah penuh, parkiran mobil yang tersedia berada cukup jauh dari pusat pesat perayaan tahun baru malam itu, akhirnya mobil membawa kami kembali ke Dataran Nilai. Setelah memarkir mobil, kami berjalan ke tanah lapang dimana berkumpul orang-orang. Tak kuasa menahan buang air, saya pun terpaksa antri masuk toilet selama 1 jam. Selesai, datang ke kerumunan, tepat jam 12 waktu Malaysia (jam 11 waktu Indonesia) kembang api pun diluncurkan. Cukup meriah. Happy New Year.

Kelar dari situ, kami kembali menuju tempat makan tadi, rupanya teman batu kami belum makan malam. Setelah memesan makan malam, kami berbicara terkait peluang bisnis mebel untuk ekspor ke Malaysia. Kelar, mereka diantar kembali ke Flatnya, kami pun menuju Flat Cak Achmad. Capek dan ngantuk, kami pun tidur lelap di hari pertama 2012.

Pagi-pagi,alarm kami berbunyi, jam 5 waktu Indonesia, jam 6 pagi waktu Malaysia, kami pun segera mandi, sholat Shubuh. Selesai, kami segera membangunkan tuan rumah, ya, pagi itu kami meminta diantar kembali ke Bandara LCCT. Sekitar jam 7.30 kami sudah sampai Bandara, kami pun berpamitan sambil mengucapkan terima kasih banyak sudah diberi tumpangan gratis, sudah diajak menikmati kemeriahan perayaan tahun baru di Malaysia, dan ditraktir pula. Semoga Cak Achmad yang sedang bersemangat merintis investasi agrobisnis di Indonesia segera mencapai impiannya, untuk pulang kampung dan menetap kembali di Indonesia. Good bye Kuala Lumpur.

 

 

 

 

Tanggal 1 Januari 2012. Kuala Lumpur - Penang

Jam 08.30 waktu setempat, kami pun meninggalkan Kuala Lumpur menuju Penang (dibaca: Pinang). Pesawat hanya terisi kurang dari separuh penumpang. Kami pun sarapan diatas pesawat (pre-book meal). Menu yang sudah kami pesan, vegetarian rice (untuk suami) dan spagetti (untuk saya). Kalau belum sarapan dan makan pagi, rasanya ga ga kuat, ga ga kuat. Hehehe. Jam 09.25 kami mendarat di Bandara Penang. Bandaranya kecil. Kami mencari pusat informasi turis, bertanya tentang rute bis menuju hotel kami, dan mengambil beberapa brosur wisata. Karena masih pagi, kami memutuskan naik bis no 102 yang berangkat tepat jam 10.000 dari Airport. Naik taxi, membayar MYR 40 sampai hotel (ya dari dulu di Malaysia memang susah mencari taxi dengan argo, mereka maunya borongan). Naik bis seharga MYR 2.7/orang kami pun menikmati pemandangan pulau Penang pagi itu. Mmmm...mirip seperti kota-kota kecil di Indonesia. Berbeda dengan Kuala Lumpur, Penang kondisinya lebih kumuh. Akhirnya kami turun di suatu halte di jalan Dati Keramat, berbekal peta yang kami ambil di tourism centre di Bandara tadi, kami pun berjalan menemukan hotel kami. Bis-bis di Malaysia tidak boleh turun di sembarang tempat, jadi walaupun jalan Siam, tempat hotel kami kelewat 300 meter, tetap saja kami tidak bisa protes. Tidak terlihat taxi dan ojek, kami pun pasrah berjalan, total sekitar 800 meter kami berjalan kaki dari halte tempat bis menurunkan kami hingga sampai hotel kami. Sebenarnya tidak jauh, apalagi cuaca cenderung dingin pagi itu, tapi ya sekali lagi, jarang berolahraga membuat saya kecapekan berjalan.

Sampailah di Hotelnya. Hotel masih penuh, kami belum bisa check in. Walaupun begitu kami tetap menyelesaikan administrasi, kemudian meninggalkan tas berat kami di hotel. Kami pun melangkah menuju jalan Dunlop No 7 yang tidak terlalu jauh dari hotel kami (menurut peta), tujuan kami One East Museum. Di brosur tertulis 'The first family rose figurine museum in the world.' Jam buka selasa-minggu 10 am - 6 pm. Tiket masuk MYR 10/adult. Dan setelah berjalan kaki di tengah cuaca mendung, kami pun sampai, tidak jauh dari hotel kami. But unfortunately, it was closed. Mungkin karena ini adalah tahun baru (di Malaysia, senin tanggal 2 Januari 2012 terpantau menjadi hari libur nasional).

Dari situ, kami pun melanjutkan menuju jalan Dato Keramat, ada halte disana. Kami pun menunggu, ada bis datang, terlihat ada tulisan Komtar di salahsatu rute bis-nya, kami pun naik. Bertanya kepada pak Sopir yang keturunan India, tidak ramah. Kami pun membayar MYR 1.4/orang tetapi karena tidak ada uang pas/kembalian, kami membayar MYR 3/orang (sopir bis tidak melayani kembalian, karena uang dimasukkan ke mesin, sopir memberikan tiket).

One East Museum

Klenteng @ Penang


Tidak lama kemudian, terlihat halte bertuliskan Komtar, kami turun, menyebrang menuju sebuah bangunan besar. Di lantai 1 terdapat banyak toko-toko yang masih tutup, tapi terlihat bertuliskan 'travel'. Sebagian besar orang bergegas ke lantai dua, sambil penasaran dimana sebenarnya Komtar, karena menurut referensi, itu adalah terminal bis antar kota/negara, jadi seharusnya bis ke Thailand, Kuala Lumpur, Singapore bisa ditemukan di Komtar. Termasuk Tune Hotels, mestinya di balik bangunan ini, kami memutuskan tidak bertanya dan mencari lebih jauh, karena kami harus segera kembali ke hotel untuk mengikuti paket tour yang sudah kami pesan sebelumnya. Dalam perjalanan balik, kami melihat depot milik orang India, ingin menikmati roti cane, sayang belum buka, ada depot di sebelahnya yang sudah buka dan berjualan nasi dan lauk. Tapi perut kami masih kenyang, kami ingin mencoba makan makanan yang ringan-ringan. Melanjutkan perjalanan, ada warung kaki lima, penjualnya memakai kopiah, sudah bisa ditebak, penjual ini pasti muslim keturunan India. Kami melangkah kesana, ternyata dia berjualan bubur. Ada 3 pilihan bubur, bubur kacang hijau, bubur ketan hitam, bubur gandum. Kami pun mencobanya MYR 1.2/mangkok untuk makan di tempat dan MYR 1.4 kalau dibungkus. Selesai makan, kami ingij bertanya nama halte terdekat menuju hotel sambil menunjukkan peta yang kami bawa, sayang Bapaknya menolak membantu, alasannya, dia buta huruf. Ya sudahlah, kami pun kembali menyusuri jalan pulang ke hotel. Mmm, kali ini kami menyadari kalau sebenarnya hotel kami dekat dan bisa ditempuh berjalan kaki, no need bus lah. Sampai di Times Square, kami masuk, mencari restoran yang kira-kira menyediakan menu halal, kami pun memesan mie kuah seharga MYR 17.8/2 porsi.

Times Square and Lunch

Kembali ke Hotel, sudah bisa masuk kamar, alhamdulillah. Hotelnya masih baru jadi semua kondisi dalam kamar sangat bersih dan bagus kondisinya, kamar cukup luas. Mandi, sholat dan istirahat. Tepat jam 2.20 pm kami dijemput pemandu wisata kami, bis menunggu di ujung jalan. Ya, saatnya kami menikmati paket tour dengan bis pariwisata. Total peserta tour ada 12 orang, 2 orang dari Indonesia, 4 orang Australia (keluarga), sisanya dari Singapore (2 orang etnis Cina, sisanya etnis India). Selama perjalanan, pemandu wisata menjelaskan sejarah Penang dalam bahasa Inggris. Disampaikan juga, bahwa naik bis dari Penang ke Thailand hanya 2 jam, ke Kuala Lumpur 5 jam, ke Singapore 9 jam. Ya, Penang memang berbatasan darat dengan Thailand.

Sampailah di tujuan pertama tour-nya, Bukit Bendera (Penang Hill). Tarif masuk MYR 16/PP untuk warga negara Malaysia, untuk turis MYR 30/PP. Pemandu wisata pun antri membelikan tiket untuk kami semua, tertulis di tiket seharga MYR 24/PP. Cukup lama kami menunggu antrian beli tiket, antrian masuk kereta yang akan membawa kami keatas bukit, satu jam lebih rasanya. Akhirnya kami pun naik kereta yang membawa kami keatas, dan begitu sampai diatas, memang menyegarkan dan indah, kami melihat dua pulang Penang dari atas bukit. Pulau Penang dan Pulau Seberang. Berbatas waktu yang sudah ditentukan pemandu wisata, kami pun bergeges naik keatas lagi. Di puncak tertinggi terdapat Temple dan Mesjid.

Kelar, turun, naik kereta lagi. Bertemu di gerbang Bukit Bendera. Ohya, bagi anda yang tidak mangambil paket tour, naik bis No 204, mudah dan pasti lebih murah. Kami semua naik bis, menuju ke tujuan kedua. Berita dari pemandu wisata, dua orang peserta tour tidak diketemukan, sehingga akhirnya hanya 10 orang peserta tour tersisa di bis. Dan kami pun sampai ke Kek Lok Si Temple yang berjarak 15 menit berkendaraan. Untuk menuju keatas, kami melalui gang sempit yang kanan-kirinya terdapat banyak pedagang souvenir. Jalannya naik dan naik (entah kapan selesai), sampai di titik tertentu, saya sudah tidak kuat berjalan naik. Akhirnya saya menunggu suami di kolam yang berisi banyak kura-kura. Sementara suami saya yang naik bersama peserta tour lainnya, 15 menit kemudian menemui saya. Hehehe...rupanya dia sudah sampai atas (tapi masih harus keatas lagi), dan saat mau mengambil gambar dilarang, jengkel, turun lagi deh. Hehehehe....akhirnya kami berjalan turun sambil mencari oleh-oleh. Sambil melihat-lihat souvenir, ternyata semua peserta tour sudah turun semua dari atas. Hahaha....kecapekan semua kali ya.

Dari situ kami melanjutkan perjalan menuju toko kopi-coklat yang cukup eksklusif. Cukup mahal, rata-rata satu bungkus kopi dijual paling murah MYR 45 sedangkan coklatnya dijual paling murah MYR 35. Kami pun tergoda membeli menggunakan kartu kredit. Selesai sudah acara tour kami hari ini, kami pun diantar kembali ke hotel masing-masing. Lumayan sambil lihat beberapa bagian pulau Penang. Selesai mandi, sholat, kami berjalan kearah Penang Times Square, ada kedai persis di depannya, penjualnya berkopiah, etnis India. Makan malam dengan masakan India, enak dan pastinya murah. Selesai, kami kembali ke hotel. Cek ulang untuk booking taxi kami besok pagi di resep. Beres, masuk kamar, packing dan tidur.

Tanggal 2 Januari 2012. Penang - Jakarta

Alarm berbunyi, mandi, sholat, menjelang jam 07.00 waktu Penang (jam 06.00 waktu Jakarta) kami turun ke resepsionis menunggu taxi. Akhirnya taxi datang, kami pun berangkat dari Hotel menuju Bandara (sekitar 30-45 menit). Penang masih gelap dan sepi. Argo di taxi menunjukkan MYR 18.9 tetapi kami tetap harus membayar MYR 35 sesuai harga booking taxi di hotel. Masuk bandara, check in, di lorong menuju ruang tunggu ada penjual makanan dari etnis melayu, kami membeli dua roti seharga MYR 4 dan MYR 2. Menghitung sisa uang ringgit di dompet kami, tinggal MYR 51. Akhirnya pesawat berangkat sesuai jadwal, turun di terminal 3 Bandara Soekarno Hatta, kami menukarkan semua uang asing kami di Bank Mandiri yang terdapat di pintu keluar penumpang. Terdapat cadangan dana USD 100 (yang dulu saya beli Rp 8.760/1 USD) yang ditukarkan di harga Rp 9.020/1 USD. Lumayan deh. Naik free shuttle bus dari terminal 3 ke terminal 1 C, ambil mobil di parkiran, keluar parkir membayar sekitar seratus delapan puluh ribu rupiah. Senin yang indah, tidak terlalu macet, kami pun menuju Cikarang, go home, menikmati nasi bebek H. Slamet yang lezat, alhamdulillah.